Ayoo...berwisata ke Pakpak Bharat..., Negeri seribu Air Terjun di Atas Awan
Showing posts with label Pakpak Bharat.. Show all posts
Showing posts with label Pakpak Bharat.. Show all posts

Sunday, 19 April 2015

MEJAN (MENHIR)

Foto : Mejan Manik Aritutun
Mejan (Menhir) merupakan salah satu benda cagar budaya yang ada pada suku Pakpak. Mejan merupakan patung batu berbentuk gajah yang ditunggangi oleh manusia. Dalam kepercayaan suku Pakpak, mejan diyakini memiliki kekuatan gaib yang telah ditanamkan oleh pembuatnya sejak dahulu dan merupakan lambang kebesaran dan kekuatan bagi masing – masing marga pada suku Pakpak. Mejan juga dijadikan sebagai pelindung suatu kawasan/wilayah masing-masing marga yang ada di Tanah Pakpak.
Jaman dahulu juga diyakini bahwa mejan dapat bergerak dan berjalan sesuai perintah yang empunya, beberapa narasumber menyebutkan sampai saat ini kekuatan gaib mejan tersebut juga masih bisa dirasakan. 
Mejan batu tersebut diyakini telah berumur ribuan tahun dan sampai saat ini masih dapat ditemui di beberapa lokasi di Kabupaten Pakpak Bharat.


Beberapa mejan yang masih ada seperti Mejan Berutu Kuta Kersik di Desa Singgabur, Mejan Boangmanalu di Desa Boangmanalu, Mejan Manik Aritutun di Desa Aornakan, Mejan Manik Kecupak di Desa Kecupak I, Mejan Mejan Tinendung di Sukarame, dan masih banyak mejan-mejan milik marga-marga pakpak yang tersebar di berbagai tempat.  


PAKAIAN ADAT PAKPAK

           
 Pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok manusia, dimana seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, pakaian juga digunakan sebagai simbol status, jabatan, ataupun kedudukan seseorang yang memakainya.
Jika kita berbicara tentang pakaian adat, maka terbayang dibenak kita bahwa pakaian dimaksud seakan-akan digunakan ketika berhubungan dengan acara adat saja. Dalam bekerja pun seyogyanya kita memakai seragam dinas (kantor), tetapi saat ini di kantor-kantor pemerintahan daerah sudah  menjadi kebijakan yang dibuat oleh para pimpinan yang ada di kabupaten Pakpak Bharat yang menghimbau seluruh  pegawai negri sipil diwajibkan menggunakan pakaian tradisional khas Pakpak setiap hari kamis, ini merupakan salah satu hal yang positif dalam pelestarian budaya Pakpak dan pencitraan diri.
Pakaian tradisional orang Pakpak didominasi oleh warna hitam. Berbahan dasar katun, dan beludru. Ketika pakaian adat itu dipakai sebagai pakaian tradisional dan kelengkapan berbusana disetiap acara peradatan, maka harus dibarengi dengan penggunaan Oles (tenunan khas Suku Pakpak) sebagai padanan busana daerah itu, sehingga menghasilkan tampilan yang anggun, modern dan cantik, dan menjadi penanda busana yang khas.
Perhiasan emas Pakpak yang disebut Borgot untuk pria dan Cimata untuk wanita adalah sejenis kalung yang terbuat dari bahan emas dan permata, dijadikanlah sebagai aksesoris yang melengkapi pakaian adat tersebut dengan cara dikalungkan pada leher dengan latar belakang dasar kain baju berwarna hitam, sehingga membuat perhiasan tersebut tampil bercahaya dan kontras, sehingga terpancar eleganitas atau kemewahan yang hakiki, menjadi suatu keunikan tersendiri dari pakaian tradisional Pakpak. Dalam acara-acara adat resmi pakaian Adat pakpak itu juga dilengkapi dengan tongkat dan rabi yaitu semacam keris atau golok.
Pakaian tradisional Pakpak dibagi menjadi beberapa fungsi dan penggunanya antara lain pakaian kerja, pakaian Raja/ Pemimpin, pakaian Jejap (pengantin), pakaian Tokoh adat/ masyarakat, pakaian Pakalima (panglima perang jaman dahulu), dan pakaian masyarakat umum.
Kelengkapan pakaian dan aksesoris  pada adat Pakpak antara lain :
A  PAKAIAN RAJA DAN PERTAKI
-  Bulang-bulang Pinutar
-  Cuman-cuman
-  Oles Mangiring
-  Baju Mbereng Teluk Belanga
-  Sulabal Gosting Melayu
-  Permenting/Tali Tenggang
-  Kancing Baju
-  Golok Rempu Riar
-  Ucang Mergiring-giring
-  Bura/Borgot
-  Raut
-  Abit
-  Dll
B. PAKAIAN  BINDOHARA/ISTRI RAJA
-    SAONGNA
-    LEAM
-    Sobeng (Anting-antingna)
-    Susuk Leamna
-    Bura (Cimata)
-    Baju
-    Sabe-sabe
-    Abit
-    Kancing Bjuna
-    Golokna (Rabi Munduk)
-    Ucangna
C. PAKAIAN  PAKKALIMA, BALA PERGUNGGUNG, dan DUBALANG.
-     BULANG-BULANGNA
-     Bajuna
-     Sulabalna
-     Gellang
-     Tangan Baju
-     Golok
-     Kujur

-     Permenting

NAMA-NAMA HARI PADA SUKU PAKPAK

Sebagai satu suku yang memiliki hak ulayat, adat istiadat dan bahasa,  Suku Pakpak juga memiliki nama-nama hari dalam satu bulan, antara lain :


1.             Antia 
2.             Suma 
3.             Anggara 
4.             Budhaha/Muda 
5.             Beraspati 
6.             Cukerra 
7.             Belah Naik 
8.             Sumasibah 
9.             Anggara Sipuluh 
10.         Budhaha Mangadep 
11.         Antia Naik 
12.         Beraspati Tangkep 
13.         Cukerra Purnama 
14.         Belah Purnama 
15.     Tula 
16.     Suma Teppik
17.     Anggara Kolom
18.     Budhaha Kolom
19.     Beraspati Kolom
20.     Cukerra Genep Duapuluh
21.     Belah Turun
22.     Adintia Nangga
23.     Sumanti Mante
24.     Anggara Bulan Mate
25.     Budha Selpu
26.     Beraspatigok
27.     Cukerra Duduk
28.     Samisara Mate Bulan
29.     Dalan Bulan
30.     Kurung

Monday, 13 April 2015

MENANDA TAHUN MARGA MANIK SISADA RUBE



Foto : Prosesi Menanda Tahun Marga Manik di Delleng Simenoto

Menanda Tahun Merupakan salah satu upacara adat yang sakral yang dilakukan oleh masyarakat Pakpak. Salah satu marga yang rutin melakukannya yaitu Marga Manik Sisada Rube yang terletak di Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut.  Pelaksanaan Menanda Tahun  dilaksanakan sekali dalam setahun biasa dilaksanakan menjelang musim tanam dan dilakukan di Delleng Simenoto Desa Kecupak I. Tujuan dari Menanda Tahun adalah agar tidak menyalahi apa yang dipercaya sebagai ketentuan-ketentuan penguasa alam gaib bagi kelestarian ekosistem, sehingga demikian usaha-usaha pertanian dan perladangan memperoleh izin dan keberkahan dari mereka (penguasa alam gaib).


SAMPUREN LAE UNE

Foto : Sampuren Lae Une
Air Terjun (Sampuren) Lae Une berada di Desa Kecupak I Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut, Lokasi wisata ini dapat di tempuh sekitar 15 menit dari ibukota Pakpak Bharat - Salak dengan menggunakan kenderaan roda 2(dua) maupun kenderaan roda 4(empat). Air terjunnya bagaikan tunpukan salju dan kondisi alamnya yang masih asri membuat kita merasa nyaman berada di lokasi Air Terjun ini. Pepohonan yang hijau di hinggapi burung-burung membuat suasana lebih tenang. Jika kita sedang beruntung kita akan menemukan satwa liar seperti Imbo (siamang) yang bergelantungan di pohon-pohon dekat air terjun tersebut.
Obyek Wisata ini direkomendasikan bagi anda dan keluarga yang ingin berlibur dengan menikmati suasana alam yang asri dan nyaman.

Sunday, 12 April 2015

HUTAN KEMENYAN (KEMENJEN)

Foto : Proses Pengambilan dan Pengolahan Kemenyan.
Pakpak Bharat merupakan salah satu Daerah penghasil kemenyan (Kemenjen). Salah satu daerah penghasil Kemenyan di Pakpak Bharat yaitu Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, tepatnya di Delleng Simpon yang berbatasan dengan kabupaten Humbang Hasundutan.
Hutan Kemenyan ini sampai sekarang masih terpelihara dengan baik dan menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat. Kelestarian Hutan Kemenyan (kemenjen)  tergantung pada faktor kesuburan tanah dan juga pengaruh cuaca yang dingin dan Lembab.
Memandang Hutan Kemenyan adalah suatu kegiatan yang sangat menyenangkan, disamping kita bisa melihat sendiri secara langsung bagaimana pengambilan dan pengolahan getah kemenyan oleh warga dengan menggunakan Jalu-Jalu (Tali), Kabus (Alat Pembersih Lumut dari Batang Kemeyan), dan Curu-curu (Keranjang Tempat Kemenyan), Kita juga akan disuguhi dengan suasana Hutan yang masih asri dan udaranya yang segar.